Tahun baru hijriyah
Dalam setiap pergantian tahun, pesan umumnya adalah agar setiap diri (per
individu) maupun bersama-sama (kelompok/organisasi) menjadi lebih baik daripada
tahun-tahun sebelumnya. Sebab, kalau berhenti dalam kondisi sama seperti kondisi
sebelumnya, berarti tidak ada kemajuan, tertinggal yang berarti kemunduran. Dan,
harapannya adalah kondisi ke arah yang lebih baik.
Hijriah yang berasal dari kata hijrah -hajara, yahjuru, hijratan- berarti
berpindah atau meninggalkan yang pada masa Rasulullah SAW digambarkan dengan
meninggalkan Kota Makkah menuju Madinah.
Dalam hal ini, hijrah diartikan meninggalkan keadaan terhina dan tak memiliki
kekuatan menjadi umat yang kuat serta mulia. Menjadi kuat karena kekuatan
dihimpun dari persaudaraan yang baik antara kaum muhajirin (pihak yang hijrah
dari Kota Makkah) dan kaum Anshar (pihak yang menolong dari Kota Madinah).
Menjadi mulia karena Kota Madinah akhirnya menjadi kota niaga yang maju serta
melibatkan lintas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).
Keragaman yang dipertontonkan masyarakat Madinah dengan lintas SARA serta
menghasilkan budaya dan peradaban menjadikan budaya masyarakat Madinah dirujuk
umat dunia.
Di kalangan pemikir Islam, misalnya, peradaban Madinah dipopulerkan ke dalam
diskursus masyarakat madani atau makna lain civil society dalam diskursus para
pemikir Barat. Masyarakat yang berbudaya dan memiliki nilai-nilai yang agung.
Masyarakat yang toleran terhadap perbedaan dan mengutamakan musyawarah dalam
mengambil kebijakan. Menghargai minoritas dan mengangkat martabat wanita serta
menjunjung tinggi keadilan.
Karena itu, tidak jarang peradaban Madinah diusulkan sebagai alternatif model
pembentukan masyarakat mandiri di banyak negara yang mayoritas berpenduduk
muslim, tidak terkecuali Indonesia.
Lebih Baik
Hal terpenting dari peringatan tahun baru Hijriah adalah menjadikan hidup, baik
sebagai individu maupun organisasi menjadi lebih baik dengan tugas dan peran
hidup yang sepenuh hati. Lebih baik tidak sekadar baik. Sebab, lebih baik
berarti ada peningkatan produktivitas, baik dari segi jumlah maupun mutu.
Lebih baik, meminjam istilah Jim Collins, konsultan perusahaan-perusahaan besar
dan konsultan negara-negara maju, berarti good to great (baik menjadi hebat).
Maknanya adalah menjadikan semangat Hijriah untuk menyadarkan diri dan
organisasi menjadi ke arah yang lebih baik serta hebat.
Makna lain dari pribadi dan organisasi yang berkemajuan dan hebat (great) adalah
keagungan. Pendek kata, semangat Hijriah juga diharapkan bisa membentuk pribadi
serta organisasi yang agung (greatness).
Pribadi atau organisasi yang agung, meminjam istilah Stephen R. Covey dalam The
8th Habit, adalah pribadi atau organisasi yang telah menemukan suara
jiwa/nuraninya dan selalu berusaha membantu orang lain untuk menemukan panggilan
jiwanya.
Dan, yang menjadi inti keagungan adalah pemberdayaan dengan terus-menerus
mengasah diri serta memberikan pelayanan kepada orang lain melampaui diri
sendiri, keluarga, dan kelompok untuk kebaikan bersama.
Empat Dimensi
Ada baiknya, dalam momentum Hijriah, makna hijrah kita dekati dari empat
dimensi. Yakni, tubuh, pikiran, hati, dan jiwa seperti yang ditawarkan Stephen
R. Covey. Keempat dimensi yang dimaksud diharapkan bisa membantu hidup ini dari
segi peran agar lebih bermakna dan berkemajuan.
Pertama, dalam dimensi tubuh/fisik, hijrah berarti kesediaan untuk berdisiplin,
bekerja keras, dan ulet. Khusus masalah kedisiplinan, sesuai hasil penelitian
Jim Collins antara perusahaan hebat dan perusahaan pembanding, keunggulan hanya
ditemukan di perusaaan hebat dan tidak di perusahaan pembanding karena faktor
kedisiplinan. Perusahaan hebat memiliki budaya disiplin, pikiran disiplin, dan
tindakan disiplin. Ada pun bekerja keras dan ulet adalah buah kedisiplinan
tersebut.
Kedua, dalam dimensi pikiran, hijrah berarti kesediaan untuk mengantisipasi masa
depan. Untuk mengantisipasi masa depan, perlu dikembangkan pikiran yang terbuka,
rasa ingin tahu, dan membersihkan diri dari bermacam prasangka.
Ketiga, dalam dimensi hati, hijrah berarti kesediaan untuk berempati terhadap
orang lain. Berarti pula mengembangkan sikap inklusif dan menaruh rasa hormat
serta cinta mendalam terhadap sesama.
Dan, keempat, dalam dimensi jiwa/nurani, hijrah berarti penuh bela rasa,
bijaksana, rendah hati, dan melayani. Nurani mendorong untuk berpindah dari
keadaan egois menjadi keadaan saling bergantung. Nurani mengubah gairah menjadi
bela rasa atau welas asih (compassion). Ia membangkitkan perhatian yang tulus
kepada orang lain, sehingga bisa merasakan penderitaan orang lain.
Bila dikelola menurut nurani, hidup akan membangkitkan ketenangan pikiran yang
pada gilirannya membuat orang yang memilikinya mampu menjadi baik hati. Artinya,
dia akan menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap orang lain, terhadap
pandangan, perasaan, serta keyakinannya.
Semoga, semangat hijrah mampu mengantarkan hidup ini menjadi lebih baik daripada
kondisi sebelumnya dan berkemajuan.



