15517571_b39f1f59141.jpg

Tak terasa Sabtu (20/1) lalu, kita telah melewati Tahun Baru 1428 Hijriah. Sebuah momentum yang mengingatkan umat Islam akan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Apa sebenarnya makna Tahun Baru 1428 Hijriah bagi kebanyakan orang Islam?

Seorang muslimah asal Mojolaban Sukoharjo, Basundari, mengaku tidak memiliki rencana khusus guna merayakan Tahun Baru 1428 Hijriah. ”Tidak ada aktivitas khusus. Demikian halnya pada perayaan Tahun Baru Islam sebelumnya, aktivitas berjalan seperti hari-hari biasa,” jelasnya saat bertemu Espos di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, belum lama ini.
Terkait aktivitas muhasabah (evaluasi) diri yang biasanya dilakukan sebagian orang pada saat momentum Tahun Baru, Basundari menjelaskan ia tidak melakukan tradisi tersebut. ”Menurut saya, muhasabah tak hanya dilakukan saat Tahun Baru. Selama ini saya membiasakan diri untuk segera bertobat,” jelasnya.
Tak jauh beda, seorang muslim asal Kaliwingko, Grogol, Sukoharjo, Widodo, 55, juga mengaku tidak memiliki kebiasaan khusus menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah. ”Saya dan keluarga tidak terbiasa menyambut Tahun Baru dengan kegiatan khusus,” ujarnya.
Meski demikian, Widodo berharap agar pada tahun 1428 Hijriah, ia bisa menjadi seorang hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan lebih mawas diri. ”Saya berusaha memaknai Tahun Baru sebagai momentum perbaikan diri. Caranya yakni dengan melakukan evaluasi diri. Harapannya tahun besok akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Terjadinya bencana di banyak tempat, diakui Widodo, menjadi inspirasi tersendiri baginya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. ”Yakni dengan memperbanyak amal ibadah. Selain itu, saya dan keluarga juga berusaha memperkuat iman dengan mengikuti pengajian rutin di mesjid dekat rumah,” tandasnya.
Sementara itu salah satu pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jebres, Solo, Ustad Abdul Hakim Lc, menjelaskan hendaknya seorang muslim tidak merayakan Tahun Baru Islam penuh kegembiraan, melainkan usaha penyadaran diri agar di tahun berikutnya terdapat peningkatan amal saleh. ”Selain itu, seorang muslim hendaknya juga mampu menghayati semangat hijrah seperti halnya semangat hijrah Rasulullah dan kaum muslimin saat itu,” jelasnya.
Miliki komitmen
Terlebih saat ini ketika Bangsa Indonesia ditimpa berbagai musibah, Ustad Hakim menyarankan agar kaum muslimin bangkit dari segala keterpurukan. ”Tak hanya itu, kaum muslimin juga hendaknya memiliki komitmen agar di tahun berikutnya umat Islam mampu eksis di berbagai bidang agar nantinya mampu memiliki kemandirian dalam banyak hal,” tambahnya. Semangat hijrah, lanjut dia, juga mengandung pelajaran berharga agar para muslim senantiasa menguatkan ukhuwah atau persaudaraan antarmuslim. ”Ketika ukhuwah bisa dibangun, persatuan umat Islam akan terwujud.”
Hal lain yang lebih utama, sambungnya, yakni usaha seorang muslim untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. ”Jadikan momentum Tahun Baru untuk memotivasi diri agar lebih bersemangat dalam mempelajari agama dan mengamalkannya,” urainya.
Peristiwa hijrah yang terjadi berkali-kali, katanya, mengandung hikmah agar umat Islam tidak menjadi umat yang malas. ”Allah menginginkan hamba-Nya menjadi orang yang tidak mudah putus asa dan selalu berusaha ketika ingin mewujudkan suatu hal,” tandasnya.
Pengertian hijrah itu sendiri, imbuhnya, mencakup dua hal, yakni hijrah umum dan hijrah khusus. ”Hijrah umum yakni hijrahnya hati dan anggota tubuh manusia secara umum. Pengertiannya bahwa seorang manusia wajib berhijrah dari kondisi jahiliyah menuju ke jalan Allah, dari kebodohan menuju kepintaran dan lainnya. Sedangkan hijrah secara khusus yakni pindahnya kaum muslim dari negara kafir ke negara Islam,” jelasnya.(lbb from solopos.net)